BAPE

A Bathing Ape (ア・ベイシング・エイプ A Beishingu Eipu?) atau BAPE adalah merek pakaian Jepang yang didirikan oleh Nigo pada tahun 1993.  Merek ini mengkhususkan koleksi produknya pada gaya streetwear pria, wanita dan anak-anak. Bape pertama kali diluncurkan di Harajuku, Shibuya. Di Jepang, Bape mencakup beberapa toko, seperti Bape Stores, Bape Pirate Stores, Bape Kids Stores, Bapexclusive Aoyama, dan Bapexclusive Kyoto. Toko di Kyoto memiliki Bape Gallery, sebuah ruangan yang digunakan untuk berbagai acara dan pertunjukan seni yang disponsori oleh Bape. Selain itu, Bape juga membuka toko di Hong Kong, New York, Taipei, Bangkok, Shanghai, Beijing, Seoul dan Singapura.

Sejarah

Nigo (Tamoaki Nagao) adalah seorang perancang, produser, dan DJ. Setelah menyelesaikan studi dalam bidang fashion editing di perguruan tinggi, ia bekerja sebagai editor dan stylist untuk majalah Popeye. Ia meminjam 4 juta yen dari seorang kenalan yang juga mengizinkan Nigo menggunakan tokonya, Nigo pun membuka toko pertamanya, “Nowhere”, bersama Jun Takahashi dari label Undercover pada 1 April 1993 di Harajuku, Tokyo. Memutuskan untuk memulai merek pakaiannya sendiri, ia memberikan nama yang terinspirasi dari film Planet of the Apes. Menurut Nigo, nama “BAPE” dipilihnya dari istilah bahasa Jepang yang berarti “A Bathing Ape in Lukewarm Water”. Hal tersebut mendeskripsikan metode berendam dengan air hangat dalam jangka waktu yang lama, mengolok sifat malas beberapa orang Jepang. Nigo merasa bahwa kalangan muda Jepang sekarang merefleksikan hal tersebut.[4] Untuk memperkenalkan merek ini, ia memberikan kaus kepada Cornelius untuk dipakai saat tampil di panggung. Selama dua tahun, ia memproduksi 30 sampai 50 kaus per minggu, separuh untuk dijual dan separuh lagi untuk diberikan pada teman-temannya. Pada tahun 1997, Nigo merilis album debutnya yang berjudul Ape Sounds di bawah label Mo’Wax bersama DJ/Produser James Lavelle dari UNKLE. Nigo juga menjadi pemilik pendamping (co-owner) dan kepala desainer dari merek pakaian Billionaire Boys Club dan Ice Cream milik Pharrell Williams.

Pada 1 Februari 2011, diumumkan bahwa A Bathing Ape telah dijual ke konglomerat fesyen Hong Kong, I.T Group.

Bape adalah merek populer di kalangan selebriti, di mana banyak selebriti internasional yang muncul di majalah atau katalog menggunakan pakaian dari Bape.

 

 

sinopsis 17 again

Sutradara                    : Burr Steers

Produser                     : Adam Shankman

Jennifer Gibgot

Penulis                        : Jason Filardi

Keenan Donahue

Pemeran                     : Matthew Perry

Zac Efron

Leslie Mann

Thomas Lennon

Sterling Knight

Michelle Trachtenberg

Durasi                         :102 menit

Bahasa                        : Inggris

Sinopsis

17 Again adalah sebuah film komedi tahun 2009.Awal mula cerita adalah disaat O’Donnell masih bersekolah dia merupakan bintang basket dan juga orang famous di sekolahnya yaitu SMA Hayden.O’Donnell mempunyai teman akrab yang bisa dibilang culun atau kutu buku yang bernama Ned yang diperankan oleh (Tyler Steelman).Lalu pada suatu pertandingan yang penting yang akan dihadiri oleh pencari bakat kampus O’Donnell bimbang untuk bermain atau tidak karena disaat yang sama pacarnya scarlet muda (Allison Miller) hamil.Dan disaat itu ternyata O’Donnell lebih memilih Scarlet.

 

Kemudian 20 tahun kemudian O’Donnell sudah tua yang diperankan oleh (Matthew Perry) yang sudah mempunyai dua anak Maggie (Michelle Trachtenberg) dan Alex (Sterling Knight) dari pernikahannya dengan scarlet yang diperankan oleh (Leslie Mann) yang sedang diambang perceraian.Dan ternyata perceraian itu dikarenakan O’Donnell selalu menyalahkan Scarlet akan setiap kegagalannya karena dulu dia lebih memilih Scarlet disbanding dengan beasiswa kampus.Karena masalah itu O’Donnell tinggal bersama teman baiknya yaitu ned.

Suatu ketika O’Donnell mengalami peristiwa yang aneh yang mengakibatkan tubuh fisiknya berubah kembali menjadi fisik tubuh ketika ia berusia 17 tahun.Dan itu sangat mengagetkan Ned meskipun akhirnya Ned mempercayai bahwa itu sahabatnya O’Donnell.Setelah itu O’Donnell berencana untuk masuk SMA Hayden lagi untuk memperbaiki kehidupannya yang sekarang berantakan.Dan disana lah ia satu sekolah dengan anak-anaknya.Disana ia membantu anak-anaknya dari kehidupan social seperti pada Maggie, ia memisahkan Maggie dengan pacarnya Stan (Hunter Parrish) yang sangat nakal dan suka ngerjain adik Maggie sendiri yaitu Alex.Di saat itu juga O’Donnell membantu Alex untuk berani kepada wanita dan melatih Alex bermain basket sampai ia masuk team SMA Hayden.

Kemudian, sampai suatu ketika O’Donnell harus berhadapan dengan kondisi yang sama, dia disudutkan dengan 2 pilihan antara beasiswa kampus dengan harus memilih Scarlet dan akhirnya ia tetap lebih memilih Scarlet.Dan Scarlet pun akhirnya menerima kembali O’Donnell dan mereka kembali rukun.

Kesimpulan

Dari cerita 17 Again ini kita bisa banyak belajar terutama padaa saat kita mengambil suatu keputusan jangan pernah menyesali apalagi sampai menyalahkan orang lain atas keputusan itu, tapi kita harus lebih mengambil pelajaran tentang kesalahaan kenapa kita salah mengambil keputusan.

credit :

reyza-rezablog.blogspot.com/2011/04/17-again.html

Review Film: Sudah 52 Tahun, Keanu Reeves Tetap Tampil Brutal di John Wick Chapter 2

 

Keanu Reeves masih punya nyali. Di usianya yang telah menginjak 52 tahun, Reeves masih nekad bermain film aksi meski dalam beberapa adegan dilakukan tanpa stunt. Yap tak diragukan lagi, John Wick: Chapter 2 memang film yang penuh nyali. Filmnya membuat adrenalin terpacu yang memberikan sensasi tersendiri bagi sebuah film aksi.

John Wick: Chapter 2 melanjutkan perjalanan Boogeyman di film prekuelnya. Ketika di seri pertama John Wick merasa perlu membalas dendamnya kepada gangster Rusia, di sekuelnya dia terpaksa berhadapan dengan mafia Italia. Di sini, John diminta oleh mafia bernama Santino D’Antonio (Ricardo Scamarcio) untuk menjalankan misi pembunuhan. Padahal, John sudah menyatakan diri pensiun dari pekerjaannya. Dilakukan secara terpaksa, misi itu ternyata membuatnya terjebak pada konspirasi yang membuatnya diincar banyak musuh.

Mengikuti formula di film pertamanya, John Wick 2 juga memiliki rasa yang sama. Film ini menjamin adegan laga nyaris tanpa henti. Walau begitu, sekuel ini tidak seperti tiruan dari John Wick pertama. Walau isinya sama-sama penuh adegan laga, nuansanya terasa beda. Di seri keduanya, karakter John Wick lebih banyak memperlihatkan adegan fightingketimbang aksi kebut-kebutan atau adegan-adegan penuh ledakan seperti film-film action pada umumnya.

 

 

Banyak hal yang membedakan John Wick 2 dengan film pendahulunya. Keanu Reeves sendiri memang praktisi bela diri. Demi film ini, Keanu sampai harus latihan rutin Judo dan Brazilian Jiu-jitsu (BJJ). Terbukti, John Wick 2 dihiasi dengan adegan laga yang kental dengan bantingan, kuncian, dan juga beberapa sapuan khas Judo dan BJJ. Untuk menambah greget, teknik-teknik ini dilengkapi dengan senjata pistol dan juga pisau. Dijamin seru!

Dibanding prekuelnya, John Wick 2 memang tidak seemosional film sebelumnya. Plot film ini lebih sederhana. Memang, agak kering dari sisi emosi, namun film ini tetap punya kekuatan. Keanu Reeves mampu menampilkan adegan laga yang bertenaga. Dibalut dengan sinematografi yang juga tidak kalah keren, kuncian yang diperagakan Keanu terlihat seolah dia sudah menjadi ahli BJJ sejak lama. Very smooth!

 

 

John Wick: Chapter 2 meneruskan tradisi film aksi dengan koreografi laga yang mumpuni dan disetting dengan baik. Bisa dibilang seri John Wick punya semangat yang sama denganThe Raid. Apalagi film ini dibesut oleh Chad Stahelski dengan track record-nya sebagai petarung kickboxing yang beralih karir ke stuntman dan koordinator stunt. Sebelum menyutradaraiJohn Wick, Chad sudah berpengalaman menjadi koordinator stunt di film-film besar seperti Hunger Games dan Sherlock Holmes.

John Wick: Chapter 2 bisa menjadi tontonan seru terutama bagi kamu yang senang dengan film laga non stop. Jika menggemari film aksi ala The Raid atau sudah jatuh cinta denganJohn Wick seri pertama, John Wick: Chapter 2 patut menjadi tontonan yang sayang dilewatkan.

Review Film: Viral (2017)

 

Awalnya saya agak kurang setuju ketika film ini berjudul Viral. Karena kata ini secara umum kita ketahui adalah satu istilah yang cukup dipahami oleh anak muda pengguna “media sosial”. Di sisi lain, saya juga kurang setuju dengan sinopsis film yang ada di IMDB yang mengatakan bahwa ada virus yang menyerang populasi manusia. Pasalnya, sinopsis itu berdusta. Maksud saya, kita sebagai orang yang sudah lulus dari pelajaran Biologi, pasti mengenal dengan baik di cover film ini ada sejenis cacing yang merangkak dari mulut. Dan Cacing itu adalah parasit, dan parasit bukanlah virus.
Selain itu, pemilihan judul Viral, saya kira itu hanya cara menjangkau pasar anak muda dengan kata yang familiar di telinganya. Tapi seandainya kata ini digunakan dalam film seperti ini, lalu membuat anak muda berhenti mengejar pokemon atau berselfie tidak jelas, sepertinya saya mendukung.
Viral adalah kisah orang yang selamat dari akhir dunia akibat wabah. Dari banyak cara dunia ini bisa berakhir, wabah virus adalah yang paling mungkin. Ada banyak film dan bahkan serial TV, mencatat kematian massal dengan virus cukup mungkin terjadi, seperti virus kelelawar atau babi dalam film Contagion atau virus yang menyebabkan perilaku seperti zombie dalam film 28 Days Later. Parasit cacing, mungkin akan berperilaku yang sama di sungai Amazon sana atau di tempat-tempat yang lain, tetapi dalam film ini parasit cacing akan membuat seseorang menjadi pembunuh gila, berkekuatan super, dan akhirnya membunuhmu. Dan menyebar dari manusia ke manusia dengan cepat.
Emma (Sofia Black-D’Ella) dan Stacey (Analeigh Tipton) adiknya adalah remaja yang tinggal di sebuah rumah yang tengah tercerai berai karena perselingkuhan ayah mereka. Ibu mereka sedang dalam perjalanan bisnis ketika kasus itu merebak—orang di seluruh dunia mulai sakit dan berperilaku psikotik, dan penyebabnya tidak diketahui. Saat infeksi menyebar, cacing menjadi  parasit dan akhirnya menyerang otak, dunia mulai terpuruk dan terjadi kerusakan serius.
Saat kembali dari perjalanan bisnis, Ibu Emma tidak bisa mendapatkan taksi dari bandara untuk pulang karena kekacauan penyakit ini, sehingga ayahnya meninggalkan mereka berdua di rumah untuk mencari ibunya. Sembari menunggu ayahnya pulang, mereka yang harusnya dikarantina di rumah justru pergi ke sebuah pesta di sebuah rumah megah, sebuah kejutan terjadi ketika seseorang di antara mereka terjangkit virus ini. Bagian terburuknya Stacey, adik Emma terinfeksi ketika orang yang sakit itu meludahkan darah  ke wajahnya, dan dia tidak mnceritakan kepada siapapun.
Setelah mereka dikarantina, datanglah militer dengan jumlah yang cukup banyak, dan mereka “memusnahkan” orang-orang yang terinfeksi. Emma harus menemukan cara untuk menjaga adiknya agar tidak diseret oleh pasukan militer, dan menjaga dirinya dan pacar barunya hidup sampai solusi masalah global ini ditemukan.
Viral adalah cerita yang bagus, terutama karena karakter Emma begitu indah dimainkan oleh Sofia Black-D’Ella. Dia benar-benar membawa film dengan penampilan yang sangat bagus dan sebagai korban sehingga membuatnya menjadi pahlawan film horor yang baik. Dialog dan skenario juga bekerja dengan baik, terlepas dari seluruh situasi yang tak bersambungan.
Salah satu karakteristik yang sangat menarik dari Viral adalah penggunaan cuplikan berita kehidupan nyata, termasuk konferensi pers dengan Barack Obama, yang digunakan di luar konteks untuk memberikan penampilan bahwa para pemimpin bangsa juga mengomentari wabah yang dihadapi. Di segmen itu sangat jelas bahwa masyarakat sedang dibohongi, pemerintahnya memberitahu bahwa semuanya pasti baik-baik saja, tidak perlu khawatir, dan tetap stay di rumah. Padahal di luar sana kondisinya benar-benar parah.
Intinya Viral adalah film yang bagus, layak untuk menghabiskan malam. Film tentang kehancuran dunia yang luar biasa, plus adegan cacing yang cukup menjijikkan.

Review Film: Berpetualang ke Masa Lalu di Film Doraemon: Nobita and the Birth of Japan

 

Doraemon adalah anime yang dicintai tidak hanya mereka yang selalu mengikuti budaya pop Jepang saja. Karakter ini memang memiliki pecinta yang lebih luas dari itu. Bagi generasi yang masa kecilnya dihabiskan menonton Doraemon setiap Minggu pagi, petualangan konyol Nobita pun jadi hiburan yang menyenangkan. Maka, setiap ada film Doraemon versi bioskop, selalu banyak yang menyambutnya dengan antusias.

Doraemon: Nobita and the Birth of Japan 2016 juga merupakan film yang layak disaksikan di bioskop. Film ini adalah versi baru dari anime berjudul sama yang rilis di tahun 1989. Film tersebut memang cukup populer di masanya. Waktu itu memang versi asli Doraemon: Nobita and the Birth of Japan merupakan film Doraemon terlaris pada masanya. Setahun kemudian, film ini juga dibuatkan versi video game di Famicom setahun setelahnya dengan judul Doraemon: Giga Zombie no Gyakushū.

 

Walau versi 2016 ini sudah rilis tahun lalu, film yang berjudul asli Doraemon Shin: Nobita no Nippon Tanjō ini tetap perlu disaksikan di bioskop. Di Jepang sendiri film ini cukup laris. Film ini merupakan film terlaris Doraemon di luar Stand by Me. Film ini juga mendapat sambutan baik seperti di Turki, Tiongkok, atau juga di Hongkong. Maka, saatnya Indonesia dihibur oleh Doraemon sebelum ada rilis film Doraemon ke-37 di Maret tahun ini juga.

Versi baru dari film ke-36 Doraemon ini memang punya jalan cerita yang hampir sama dengan versi lawasnya. Kisahnya tentang petualangan Nobita dan teman-temannya ke Jepang 70.000 tahun lalu. Nobita dikisahkan ingin sekali hidup mandiri dan bebas dari orang tua dan kewajiban untuk sekolah. Ternyata, di masa itu ada penyihir jahat bernama Gigazombi yang punya kekuatan luar biasa. Dengan benda-benda ajaib Doraemon, mereka pun berusaha mengalahkan Gigazombi yang juga menyandera suku tradisional di masa itu.

 

Jika dibandingkan dengan versi 1989, film ini kelihatan berbeda dari segi visual. Meski sama-sama 2D, Doraemon baru dikemas dengan teknologi yang baru. Visualisasinya juga dibuat lebih wah. Di versi baru, penonton disajikan gambar indah Jepang di era lampau yang diimajinasikan dengan cukup bagus. Dibandingkan dengan versi lama, versi 2016 ini memiliki tonewarna yang lebih cerah.

Kembali membandingkan dengan versi lama, di versi baru ini juga memiliki plot yang dibuat lebih seru. Beberapa adegan baru ditambahkan, yang membuat petualangan terlihat lebih banyak aksi. Meski begitu, film ini tetap menampilkan adegan lucu khas Doraemon. Jika ingin melihat lagi kekonyolan Nobita, maka film ini bisa memenuhi kerinduan tersebut.  Tingkah polah Nobita yang bodoh dan jenaka masih jadi kekuatan, seperti serial Doraemon yang biasa disaksikan.

Film ini sendiri memiliki plot yang amat sederhana. Kisahnya seperti serial Doraemon yang dibuat lebih panjang. Bagi yang terkesan dengan Stand by Me, film Doraemon yang rilis 2014, belum tentu akan puas dengan film ini. Namun, jika hanya berharap nonton film Doraemon yang ringan dan seru, film cukup memenuhi ekspektasi. Seperti umumnya film Doraemon, di sini juga disajikan benda-benda canggih yang dimiliki Doraemon untuk bisa hidup di zaman dulu dan juga melawan Gigazombi.

Doraemon: Nobita and the Birth of Japan 2016 merupakan pilihan film yang layak untuk disaksikan di bioskop. Bagi yang ingin membawa anak atau saudara yang masih kecil, film ini juga pas untuk ditonton mereka. Untuk versi bioskop, film ini tidak disulihsuarakan. Jadi, memang bergantung pada teks Bahasa Indonesia, kecuali kamu lancar menguasai bahasa Jepang. Namun, tentang saja, adegan-adegannya cukup mudah dicerna. Nah, buat yang kangen petulangan Nobita bersama Doraemon, silahkan simak Doraemon: Nobita and the Birth of Japan 2016 di bioskop.

Review Film: Terbuai Mimpi Indah La La Land

 

Bagaikan terbuai dalam mimpi indah! Ya, itulah yang akan kamu rasakan ketika menonton film musikal La La Land di layar lebar. Berbeda dengan karya sebelumnya, Whiplash (2014), kali ini sutradara Damien Chazelle hadir dengan tema yang lebih ceria dan romantis, meski masih mengusung aliran musik yang sama yaitu jazz.

Layaknya kisah boy meets girl pada umumnya, alur cerita La La Land cukup mudah ditebak. Mia (Emma Stone) adalah seorang calon aktris yang sudah gagal berkali-kali dalam audisi. Demi membiayai hidupnya, Mia rela bekerja sebagai barista. Mia bertemu dengan Sebastian (Ryan Gosling), seorang pianis jazz yang bercita-cita ingin membuka klub jazznya sendiri. Bertolak belakang dengan Mia, Sebastian sangat idealis. Ia terlalu terpaku pada cita-citanya sehingga sulit mendapatkan pekerjaan tetap.

Dibalut dalam scoring indah dari Justin Hurwitz, perjalanan cinta Mia dan Sebastian dikemas dengan sangat manis, menggemaskan, dan quirky. Emma Stone tampak mempesona dengan dress-dress lucu berwarna cerah, sementara Ryan Gosling charming as always dengan jasnya yang rapi. Sambil mengendarai mobil convertible klasik, mereka berkencan ke bioskop tua dan berdansa di tengah pemandangan kota LA yang cantik. Awww, lovey-dovey!

Sayang, sejak bergabung dalam band jazz modern milik Keith (John Legend), perbedaan idealisme menyebabkan Sebastian dan Mia cekcok. Akankah mereka terus bersama? Dapatkah mereka menggapai mimpinya masing-masing?

 

Cerita klise yang dikemas dengan istimewa

Kisah tentang meraih cita-cita mungkin sudah biasa — apalagi kisah cinta yang super-romantis seperti ini bisa dibilang klise, bahkan cheesy. Akan tetapi Damien Chazelle bisa mengemasnya dengan teknik penyutradaraan yang sangat istimewa.

Adegan menyanyi dan menari dalam La La Land bukan sekadar nyanyi-nyanyi biasa, namun diambil dengan teknik pengambilan gambar yang nyaris mustahil. Sejak pembukaan film saja kita sudah disuguhi banyak long-take yang membuat penonton berdecak kagum. Sebut saja menari di tengah jalan tol, keluar-masuk ruangan sempit, hingga melompat keluar-masuk kolam renang. Wow! Bisa dibayangkan betapa sulitnya menyelaraskan gerakan tarian puluhan orang dan satu kamera? Rasanya bagaikan menonton pertunjukan Broadway secara langsung!

Memang ada beberapa adegan yang tidak realistis, tapi tidak perlu terlalu dipikirkan ya. Kamu harus memahami bahwa tujuan sang sutradara di sini adalah menciptakan cinematic experience yang menghibur secara visual.

 

Kompaknya Emma Stone dan Ryan Gosling

Chemistry antara Emma Stone dan Ryan Gosling tak perlu diragukan lagi. Keduanya telah dikenal sebagai pasanganAmerican sweetheart di layar lebar, sebut saja lewat film Crazy, Stupid, Love (2011) dan Gangster Squad (2013). Di film ini kamu akan terpukau melihat kepiawaian mereka berdansa, terutama Ryan Gosling yang ternyata jago main piano.

Emma Stone tak hanya hadir dengan ekspresi khasnya yang ceplas-ceplos, namun juga sangat pas membawakan adegan-adegan sedih. Emosi Mia saat marah dan putus asa bisa ikut dirasakan oleh penonton. Kamu akan teringat saat-saat kamu hampir menyerah dalam mengejar mimpimu — yang tentunya pernah dialami semua orang. Siap-siap deh merasakan hati tersayat-sayat saat Mia membawakan lagu The Fools Who Dream.

 

Here’s to the ones who dream

As cliché as it may sound, pesan yang disampaikan La La Land memang benar adanya: jangan pernah menyerah mengejar cita-cita. Terkadang kita butuh dorongan dari orang lain, seperti Mia dan Sebastian. Terkadang kita melakukan kesalahan. Terkadang kita tak sengaja menyakiti hati orang lain. Hidup ini tidak sempurna, seperti kata lagunya, “Here’s to the mess we’ve made…”

Ditutup dengan epilog yang bittersweet, La La Land berhasil menyampaikan pesan yang realistis, sederhana, namun akan terus terngiang dalam hati penonton. Jangan heran ya kalau keluar dari bioskop membuatmu ingin menari-nari di jalan. Dan pastinya, semangatmu untuk menggapai mimpi akan kembali terpacu.

“And here’s to the ones who dream, foolish as they may seem.”

Review Film: Moana, Putri Disney Yang Memberi Inspirasi

 

Rasanya sudah lama ya sejak kita terakhir kali menyaksikan kisah Disney Princess di layar lebar. Tiga tahun berselang setelah kesuksesan Frozen, kini Disney kembali menghadirkan Princess terbarunya yang lebih modern dan pemberani, Moana.

Berlatar belakang Kepulauan Polynesia yang cantik, sang tokoh utama Moana (Auli’i Cravalho) adalah seorang putri kepala suku di pulau kecil bernama Motunui. Seperti namanya yang berarti “lautan” dalam bahasa Polynesia, sejak kecil Moana sangat ingin berlayar mengarungi samudera, meski selalu digagalkan oleh ayahnya, Chief Tui (Temuera Morrison) yang menganggap laut berbahaya. Indahnya pemandangan laut biru serta karakter putri yang nekat sedikit mengingatkan kita akan The Little Mermaid (1989). Bedanya, Moana tidak ditambahkan embel-embel percintaan dan pencarian Prince Charming yang klise. It’s 2016, duh!

Layaknya Mulan (1998), Moana akhirnya harus berjuang menyelamatkan kampung halamannya dari kehancuran yang diakibatkan oleh Te Fiti. Menurut mitos dari sang nenek (Rachel House), Te Fiti adalah seorang dewi pencipta segala pulau dan kehidupan. Jantung Te Fiti yang berupa batu hijau dicuri oleh manusia setengah-dewa Maui (Dwayne Johnson), menyebabkan Te Fiti murka dan menghancurkan pulau-pulau di sekitarnya. Tugas Moana adalah mengajak Maui mengembalikan batu itu pada tempatnya semula. Ternyata sifat Maui sangat sulit diatur dan suka seenaknya. Dapatkah mereka bekerjasama untuk menyelamatkan Pulau Motunui?

 

Jalan cerita khas film-film Disney pendahulunya

Disutradarai oleh Ron Clements dan John Musker yang sudah berpengalaman sebagai penulis film-film lawas Disney seperti The Little Mermaid dan Aladdin, Moana memang bisa dibilang “sangat Disney” — magical, namun klise. It’s just another story tentang putri pemberani yang mencari takdirnya, pergi berpetualang, diselingi banyak adegan nyanyi, lalu dengan segala keajaiban akhirnya bisa kembali dengan selamat.

Belakangan ini Disney sedang getol ‘meracik ulang’ formula ini dengan bumbu-bumbu modern dan feminisme, yang terbukti sukses besar lewat Frozen (2013). Dibandingkan Frozen yang sarat dengan pesan modern anti-Disney-klasik seperti “tidak semua Prince Charming itu baik” atau “jangan menikah dengan sembarang pria”, Moana ini rasanya agak hampa; mudah ditebak dan tidak menawarkan sesuatu yang baru.

 

Animasi dan soundtrack yang ciamik

Meski begitu, Moana tetap bisa dimaafkan berkat animasinya yang ciamik. Lautan biru, pasir putih, dan hutan tropikal yang asri digambarkan dengan sangat detail dan realistis, membuat penonton merasa berada di tengah hangatnya Kepulauan Polynesia. Lagu-lagunya pun sangat menyenangkan hati dan sesuai dengan suasana etnik. Tak heran, karena soundtrack Moana digubah oleh Lin-Manuel Miranda, pencipta teater musikal Hamilton yang menyabet Tony Awards, Grammys, hingga Pulitzer. Walau pun ada beberapa lagu yang rasanya penempatannya kurang pas dengan adegan, tapi suara merdu Auli’i Cravalho dan Dwayne ‘The Rock’ Johnson pantas diacungi jempol. Siap-siap menahan haru biru di bagian ending ya, karena musiknya menggugah banget!

Chemistry yang tercipta antara Auli’i dan The Rock tak perlu diragukan lagi. Keduanya sangat kompak dan menghibur. Sayang, Maui yang sangat ditonjolkan di trailer, ternyata porsi perannya tidak begitu banyak; kesannya hanya sebagai tokoh sampingan saja. Begitu juga dengan pentolan The Pussycat Dolls, Nicole Scherzinger yang diusung sebagai peran sang ibu, ternyata sama sekali tidak signifikan.

MOANA – (Pictured) Moana and Maui. ©2016 Disney. All Rights Reserved.

 

Sebaliknya, Moana sukses menjadi putri Disney yang inspiring. Tidak seperti tipikal putri-putri lainnya yang yatim piatu, hidup susah, atau ingin kabur dari rumahnya, Moana memiliki orangtua dan kampung halaman yang ia cintai. Meski seringkali bingung dan berkali-kali hampir menyerah, perjalanannya dengan Maui menjadikan ia semakin dewasa dan berpengalaman. After all, keinginan untuk berubah dan terus maju berasal dari diri kita sendiri.

Terlepas dari segala kekurangannya, Moana tetap merupakan film Disney wajib tonton tahun ini, terutama untuk anak-anak dan para penggemar Disney. Jangan sampai ketinggalan, yuk ajak keluargamu nonton Moana.

James McAvoy on Split

I think we can all agree M. Night Shyamalan made some great movies to start his career and then went through a bit of a rough patch. Thankfully, his newest film,Split, is a return to form and something you want to see as soon as possible so the various twists and turns can’t be spoiled. Trust me…see this soon.

If you’re not familiar with the film, Split puts Shyamalan squarely back in psychological thriller mode. The film stars James McAvoy as Kevin, a man who abducts three teenage girls (Anya Taylor-JoyHaley Lu Richardson and Jessica Sula) who suddenly realize that Kevin is one of 23 personalities displayed by McAvoy’s character, who suffers from a severe case of Multiple Personality Disorder. But as we learn over the course of the film, there is a 24th identity that threatens to emerge. That identity is “the beast”, and it hungers for the flesh of the clean and the unbroken as “sacred food”. The film also stars Betty Buckley as Kevin’s psychiatrist. For more on Split, you can click here to read Haleigh Foutch’s review.

james-mcavoy-split-image

Image via Universal

At the recent New York City press day I sat down with James McAvoy for a video interview. He talked about how he prepared for the role, how he wasn’t sure they could pull it off when he first read the script, how playing Kevin was like performing on stage, and more. In addition, he called John Wick co-director David Leitch’s new film The Coldest Citya thriller set in the world of MI6 agents in Berlin that stars Charlize Theron, “crazy punkish…out there…crazy.”

Check out what he had to say in the video above and below is exactly what we talked about followed by the synopsis and recent Split trailer.

James McAvoy:

  • How I first interviewed him 10 years ago for Starter for 10.
  • The way he landed the role.
  • His reaction to reading the script and how he wasn’t sure they could pull it off. He figured it would either be awesome or a disaster.
  • On how the role was like getting to perform on stage.
  • How he prepared for the role.
  • Calls The Coldest City “crazy punkish…out there…crazy.”

Here’s the official synopsis for Split:

While the mental divisions of those with dissociative identity disorder have long fascinated and eluded science, it is believed that some can also manifest unique physical attributes for each personality, a cognitive and physiological prism within a single being.

 

Though Kevin (James McAvoy) has evidenced 23 personalities to his trusted psychiatrist, Dr. Fletcher (Betty Buckley), there remains one still submerged who is set to materialize and dominate all the others. Compelled to abduct three teenage girls led by the willful, observant Casey (Anya Taylor-Joy, The Witch), Kevin reaches a war for survival among all of those contained within him—as well as everyone around him—as the walls between his compartments shatter apart.

Insidious : Chapter 4

Insidious: Chapter 4 is an upcoming 2017 American supernatural horror film directed by Adam Robitel and written by Leigh Whannell. It is the fourth installment in the Insidious franchise. It is scheduled to be released on October 20, 2017 by Universal Pictures

Insidious: Chapter 4 Poster

Cast

  • Lin Shaye as Elise Rainier
  • Ava Kolker as Teenage Elise
  • Hana Hayes as Young Elise
  • Leigh Whannell as Steven “Specs”
  • Casey Lee Harris as Young Tucker
    Despite the seeming finality of her character’s fate in Insidious, Lin Shaye’s Elise Rainier has returned in both sequel and prequel alike, with her last appearance being in 2015’s Insidious: Chapter 3. Well it looks like Elise and the darkness she seeks to vanquish will be returning for a fourth round of battle, as Insidious: Chapter 4 has just been confirmed for 2017.

    No story details have been revealed, or any other cast members for that matter, but The Wrap confirms that the latest entry in the James Wan originated franchise will see the return of Shaye’s paranormal investigator. In addition to Lin Shaye’s participation, the release date of October 20, 2017 has been penciled in for Insidious: Chapter 4, with director Adam Robitel being named as the director, and series co-creator Leigh Whannell as the film’s writer. Robitel is probably best known for directing his previous horror effort, The Taking Of Deborah Logan, another supernatural story of possession.

    Despite the lack of official details involving Insidious: Chapter 4’s story, it’s to be assumed that the plot will be another bridge story between Elise’s emergence from retirement in Insidious: Chapter 3 and her death in Insidious. The former film’s cliffhanger shows her actions creating the feud between herself and the Lipstick-Face Demon that would eventually take her life at the end of Insidious. Of course, looking at the way Insidious: Chapter 2 handled Elise’s fate, this isn’t the only option, but merely the best one available.

    With Insidious: Chapter 2 setting up Elise as a useful spirit that could help former partners Specs and Tucker in their further investigations into “The Further” and all of its incursions into our world, there’s a possibility that Insidous: Chapter 4 could tell a story that’s set in the modern day. In fact, if the folks behind the successful franchise wanted to set a logical end point for Elise Rainer’s story, they could craft this most recent film into a swan song that ties up her story, leaving future installments able to deal with new ghosts and a completely fresh slate of new characters.

    Were we to put money on which option Universal and Blumhouse would be banking on, we’d peg Insidious: Chapter 4 as another prequel, as Lin Shaye is kind of the lynch-pin of the series. Without Elise, any future chapters of the Insidious saga would more than likely fail, as the story would feel disjointed from the rest of the series. If you want to sink the franchise that started in 2011 with strong word of mouth, and seems to have continued with a fairly strong reputation for miniature budgets and maximum earnings, that’s the way to do it.

    Insidious: Chapter 4 will possess theaters on October 20th, 2017.

Tween Wolverine! All about Logan’s Fierce Child Star Dafne Keen

5 things about Dafne Keen !

Step aside, Millie Bobby Brown — there’s a new badass child star in town.

Dafne Keen is causing a stir with her film debut as female Wolverine clone Laura Kinney (aka X-23) opposite Hugh Jackman in the latest Wolverine stand-alone spin-off Logan.

Just over four feet tall and incredibly dangerous, Laura comes under the guardianship of Jackman’s Logan while being hunted in the violent R-rated flick.

Here’s five things you should know about Keen before (and after) watching Logan this weekend:

1. It took an extensive casting call to find her

While casting the young actress to take on the role of Laura, Logan director James Mangold tasked U.K. casting director Priscilla John to find a 12-year-old girl with martial arts, tumbling and acrobatic skills.

After searching through England and Ireland and seeing more than 500 kids, John told Vanity Fair she was coming up short. When she broadened her search to include those living in Spain, one of her associates remembered Keen and asked Keen’s father, Will, to put the then 10-year-old acrobat and gymnast on tape.

“She’s looking all around her . . . and [in her eyes] you could see she was devouring everything in that room,” John said of the casting tape. “She had an innocence and a vulnerability, and I said to James, ‘People are going to fall in love with her.’”

Soon enough, Keen was sent to the States to screen test with Jackman—and the rest is history.

2. Acting is in her blood

Keen is the daughter of British actor Will Keen, whose credits include playing Michael Adeane on Netflix’s The Crown and Thomas Cranmer in Wolf Hall. He also appeared alongside Natalie Dormer in the BBC Drama The Scandalous Lady W.

Keen’s mother, Maria Fernández Ache, is a Spanish actress, writer and director. In 2015, she co-starred in the Brit gangster flick Anti-Social, which also featured Prince Harry’s girlfriend and Suits star Meghan Markle.

3. The bilingual actress was only 11-years-old while shooting

Growing up between the UK and Spain, Keen is fluent in both Spanish and English—a skill which helped her land the role of the pre-teen Latina mutant.

20th Century Fox

“She’s a remarkable kid,” Mangold said in an interview with Digital Spy. “It was a huge risk for Fox to allow me to make a movie where the third point of the triangle was built upon someone so young.”

4. She has only one other credit to her name

Keen’s impressive film debut comes with only one other credit to her name.

In 2014, Keen played Ana “Ani” Cruz Oliver alongside her father in the UK/Spain television series The Refugees, which ran for a single-eight episode season. The series centers on the story of the Cruz family after the arrival of a mysterious refugee with a mission that changes their lives.

5. A spin-off of Keen’s very own may be in the future

With the studio seemingly positioning Laura to take over Wolverine’s role and Mangold’s keen desire to work with Keen again, a spin-off centered on Laura looks like it could be a possibility down the road.

“I think Dafne is incredible in the film and I would love to see another film about that character and that’s certainly something I’d be involved in,” Mangold told We’ve Got This Covered while promoting Logan. “For me that was one of the big additions I brought to the table, this decision to try to make the film about family and to try to insert Laura.” 

Logan is in theaters now.