Review Film: Viral (2017)

 

Awalnya saya agak kurang setuju ketika film ini berjudul Viral. Karena kata ini secara umum kita ketahui adalah satu istilah yang cukup dipahami oleh anak muda pengguna “media sosial”. Di sisi lain, saya juga kurang setuju dengan sinopsis film yang ada di IMDB yang mengatakan bahwa ada virus yang menyerang populasi manusia. Pasalnya, sinopsis itu berdusta. Maksud saya, kita sebagai orang yang sudah lulus dari pelajaran Biologi, pasti mengenal dengan baik di cover film ini ada sejenis cacing yang merangkak dari mulut. Dan Cacing itu adalah parasit, dan parasit bukanlah virus.
Selain itu, pemilihan judul Viral, saya kira itu hanya cara menjangkau pasar anak muda dengan kata yang familiar di telinganya. Tapi seandainya kata ini digunakan dalam film seperti ini, lalu membuat anak muda berhenti mengejar pokemon atau berselfie tidak jelas, sepertinya saya mendukung.
Viral adalah kisah orang yang selamat dari akhir dunia akibat wabah. Dari banyak cara dunia ini bisa berakhir, wabah virus adalah yang paling mungkin. Ada banyak film dan bahkan serial TV, mencatat kematian massal dengan virus cukup mungkin terjadi, seperti virus kelelawar atau babi dalam film Contagion atau virus yang menyebabkan perilaku seperti zombie dalam film 28 Days Later. Parasit cacing, mungkin akan berperilaku yang sama di sungai Amazon sana atau di tempat-tempat yang lain, tetapi dalam film ini parasit cacing akan membuat seseorang menjadi pembunuh gila, berkekuatan super, dan akhirnya membunuhmu. Dan menyebar dari manusia ke manusia dengan cepat.
Emma (Sofia Black-D’Ella) dan Stacey (Analeigh Tipton) adiknya adalah remaja yang tinggal di sebuah rumah yang tengah tercerai berai karena perselingkuhan ayah mereka. Ibu mereka sedang dalam perjalanan bisnis ketika kasus itu merebak—orang di seluruh dunia mulai sakit dan berperilaku psikotik, dan penyebabnya tidak diketahui. Saat infeksi menyebar, cacing menjadi  parasit dan akhirnya menyerang otak, dunia mulai terpuruk dan terjadi kerusakan serius.
Saat kembali dari perjalanan bisnis, Ibu Emma tidak bisa mendapatkan taksi dari bandara untuk pulang karena kekacauan penyakit ini, sehingga ayahnya meninggalkan mereka berdua di rumah untuk mencari ibunya. Sembari menunggu ayahnya pulang, mereka yang harusnya dikarantina di rumah justru pergi ke sebuah pesta di sebuah rumah megah, sebuah kejutan terjadi ketika seseorang di antara mereka terjangkit virus ini. Bagian terburuknya Stacey, adik Emma terinfeksi ketika orang yang sakit itu meludahkan darah  ke wajahnya, dan dia tidak mnceritakan kepada siapapun.
Setelah mereka dikarantina, datanglah militer dengan jumlah yang cukup banyak, dan mereka “memusnahkan” orang-orang yang terinfeksi. Emma harus menemukan cara untuk menjaga adiknya agar tidak diseret oleh pasukan militer, dan menjaga dirinya dan pacar barunya hidup sampai solusi masalah global ini ditemukan.
Viral adalah cerita yang bagus, terutama karena karakter Emma begitu indah dimainkan oleh Sofia Black-D’Ella. Dia benar-benar membawa film dengan penampilan yang sangat bagus dan sebagai korban sehingga membuatnya menjadi pahlawan film horor yang baik. Dialog dan skenario juga bekerja dengan baik, terlepas dari seluruh situasi yang tak bersambungan.
Salah satu karakteristik yang sangat menarik dari Viral adalah penggunaan cuplikan berita kehidupan nyata, termasuk konferensi pers dengan Barack Obama, yang digunakan di luar konteks untuk memberikan penampilan bahwa para pemimpin bangsa juga mengomentari wabah yang dihadapi. Di segmen itu sangat jelas bahwa masyarakat sedang dibohongi, pemerintahnya memberitahu bahwa semuanya pasti baik-baik saja, tidak perlu khawatir, dan tetap stay di rumah. Padahal di luar sana kondisinya benar-benar parah.
Intinya Viral adalah film yang bagus, layak untuk menghabiskan malam. Film tentang kehancuran dunia yang luar biasa, plus adegan cacing yang cukup menjijikkan.